Elang (2/5)


Pagi ini, aku pergi ke balai desa untuk mengirim email pada silvi.

“ BUDI. BUDI.” Teriakku dari belakang pintu. Dia belum terlihat batang hidungnya. Aku panik karena tidak menemukan Budi yang biasanya nangkring di depan balai desa sambil ngopi. Suaraku habis memanggil Budi. Tak ada orang yang menyahut. Bangunan ini begitu sepi. Sekitarku hanya meja penuh dengan tumpukkan kertas dan beberapa perangkat komputer berjejer dengan rapi ditembok. Aku duduk. Aku mengamati sekitarku. Dan aku masih terus bermimpi bahwa aku bisa sekolah di Jakarta dengan Silvi.

Belum sampai Budi datang, aku terkejut dengan kedatangan bapakku dengan muka yang masih menyimpan sisa amarah semalam.

Aku mengatur lagi posisi dudukku. Dia berdiri tegak tepat didepanku. Tangan kanannnya melenggang bebas di udara dan mendarat di pipi kiriku.

PLAK. Sangat cepat dan tak aku duga. Aku hanya diam dan terus menatap matanya penuh amarah.

“ bapak ora seneng karo konco kutomu.”

“ bapak tidak ngasih restu kamu sekolah di jakarta.”

Singkat. Begitu jelas. Aku hanya bisa membisu dan melihat kepergiaannya secara samar.

Tak terasa air mataku jatuh teruntai kecil dan akhirnya air mata ini tumpah di telapak tanganku. Samar aku mendengar suara langkah kaki mendekati dirku. Aku meringkukkan badanku sebungkuk mungkin. Dia jonggok didepanku. Aku tak berani melihat. Aku hanya bisa menahan tangisku. Dia terus diam tak berkata banyak. Dia hanya memberikan sapu tangan merahnya yang lusuh.

“ maaf  Budi tidak bisa bantu mbak Elang banyak.” Ucapnya. Dia terus menemaniku sampai aku berhasil memulihkan emosiku.

“ budi takut ama bapaknya mbak Elang.” usahanya membela diri.

Aku berusaha menghapus sisa air mataku. Tak lama aku berhasil menegakkan wajahku dan melihat budi dengan rasa bersalah.

” kalo mbak Elang mau kirim email sama mbak Silvi biar Budi aja yang nulis dan ngirim. Mbak elang tinggal nulis dikertas saja.”

Aku masih tak bisa memahami perkataan Budi.

” maksudmu?”

” mbak Elang tak perlu nangis. Budi Insya Allah bakal bantu sebisa mungkin.”

” tapi mbak Elang jangan nekat kesini. Soalnya nanti Budi yang kena masalah ama bapak kepala Desa.”

Aku semakin tidak menerti saja dengan ucapan Budi, tapi aku nurut aja dengan pernyataan budi dan aku mempercayainya.

Hari-hari berikutnya aku tak lagi ke balai desa. Aku hanya perlu menulis pada secarik kertas dan budi yang akan mengirimnya lewat email. Dan dia akan memberikan balasannya yang ditaruh diatas palang rumahku.

bersambung 3sebelum

Posted in Cerpen, Story, life, Uncategorized
2 comments on “Elang (2/5)
  1. […] bersambung 2 Leave a Comment […]

  2. […] sebelum bersambung 4 Comments (1) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: