Elang


Cerpen

NAMAKU ELANG

Namaku Elang. Namun aku bukan seorang laki-laki yang tangguh melainkan seorang perempuan yang terlalu bangga dengan namanya Elang. Namun orang pasti kecewa setelah mengenalku karena aku tidak seperti Elang di alam liar yang pemberani dan selalu terbang bebas tinggi di angkasa.

“Bapak, kenapa namaku Elang ?” pertanyaan yang terlontar dari mulutku umur 6 tahun karena semua mengganggap aku seorang laki-laki.

Dan selama ini aku tidak pernah mendengar jawaban dari mulut bapak. Dia hanya tersenyum kecil, lalu mengelus kepalaku seperti mengelus kucing dan pergi meninggalkan diriku. Ketika aku melihat ibuku, dia hanya mengangkat bahu mungilnya yang terlihat tulang belikatnya.

Sampai sekarang aku tak pernah menanyakan lagi kenapa bapak memberikan nama Elang padaku. Dan selama ini aku hanya mematuhi perintah bapak dan ibu hanya mendukungnya.

“ bapak. Aku pengen sekolah diluar kota.” elakku. Aku tidak ingin berakhir dengan nasib kebanyakan wanita didesaku.

” kamu itu wedok. Gak perlu sekolah tinggi tinggi.” belanya yang selama ini tidak bisa aku terima.

” kamu sudah cukup dengan lulus SMP didesa ini.” tambahnya, semakin membuat aku marah. Aku terduduk diam melihat perubahan mimik bapak. Aku terus menghela nafas panjang dan ayahku terus menghisap rokoknya dengan kuat. Ibuku, dia hanya penonton bagiku.

Aku mulai mengatur nafasku, dan pelan-pelan aku mencoba merayu ayahku.

” elang janji. Nanti tiap minggu elang pulang rumah.” lirihku. Ayahku tak terlalu memperdulikan perkataanku.

” Elang akan giat belajar ” sambungku, dia hanya diam.

” Elang akan buat ayah bangga…’

” Bapak cukup bangga, kalo anak gadis macem kamu bisa nikah tepat waktu dan bisa ngurus omah lan suamimu besok.”

Nafasku seakan berhenti. Ini hidupku, aku yang harus menentukan nasibku bukan ayahku.

” Elang masih pengen sekolah, terus kuliah, dapat kerja yang layak.” ucapku penuh harap.

bapak tak ambil pusing. Dia asik dengan rokoknya yang terapit antara jari manis dan tengah tangan kanan.

Kali ini habis dayaku untuk merayu bapak yang pikirannya masih kolot. Aku memang tinggal didesa terpencil di pulau jawa. Aku hanya anak tani. Tapi karena bantuan pemerintah progam internet masuk desa, diam-diam aku mulai belajar berhubungan dengan dunia maya. Budi pengelola internet dengan senang hati mengajarkankku tentang web, browsing dan email. Sejak itu aku punya teman maya dan dia pernah menemui diriku di desa sebelah waktu menjenguk neneknya. Silvi namanya. Dia gadis ramah dan cerdas. Dia sangat terbuka, dia banyak cerita tentang sekolah, harapan dan cita-cita. Dia pernah bertanya tentang apa cita-citaku, aku hanya tertunduk malu. Karena aku tak tau harus menjawab apa. Dia mengerti budaya didesaku. Dan dia hanya bisa berkata “ sayang gadis pintar sepertimu tak bisa meneruskan pendidikan. Coba kau rayu bapakmu, supaya kita bisa belajar bareng di jakarta.” Senyumnya merekah seperti anak kecil baru mendapatkan hadiah, tapi sekali lagi aku hanya tertunduk lemas.

Dari pembicaraan singkat kami, aku terus merayu dan merayuk bapak agar mengijinkan aku belajar di negri orang. Tapi dia selalu menolak dengan alasan yang tak masuk akal bagiku.

bersambung 2

Posted in Cerpen, Story, life
One comment on “Elang
  1. […] 3sebelum Comments […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: