Elang (3/5)


Selama ini belum ada yang menyadari perbuatan dosaku. Apalagi bapakku. Dia sudah cukup tenang emosinya. Dia terlalu sibuk dengan urusan taninya dan aku sibuk dengan urusan emailku dan Budi.

Tapi sepandai tupai meloncat, akhirnya jatuh juga. Malam itu ibuku masuk kamarku. Dan aku tak dengar suara ketuk pintu karena terlalu asyik membaca kertas yang dibawakan Budi dari Silvi. Dia mengabarkan kalo dia mau nerusin SMA standart Internsional. Pertama aku memang tidak mengerti sekolah macam apa itu, tapi aku yakin sekolah itu begitu bagusnya sehingga banyak siswa berebut kursi.

” kok senyum-senyum sendiri” ucap Ibuku dari belakang. Aku kaget dan langsung menyelipkan surat Silvi dibawah buku Matematikaku.

” tidak perlu disembunyikan. Ibu sudah tau apa yang terjadi belakangan ini.”

” kamu tidak perlu menyangkal. Ibu cuma bisa berdoa semoga mimpi kamu terkabul. Gak kayak ibumu yang tahunya cuma ngurus rumah, masak dan ngurus bapakmu.”

“ tapi kamu juga haru ileng. Kamu cuma anak tani, gak pantes mimpi terlalu tinggi. Syukur kamu besok bisa tamat SMP terus tamat SMA.”

Aku terdiam. Aku tidak sanggup berkata apapun. Aku hanya bisa memeluk ibuku dengan erat. Sangat erat.

” tapi kalo kamu besok sudah jadi orang jangan sombong.” kalimat terakhir yang dia ucapkan dan dia mengecup keningku dengan sangat hangat. Malam ini aku berasa ada semangat untuk meneruskan mimpiku, tapi ada perasaan tak enak meninggalkan ibuku sendiri.

Aku terus belajar mati-matian untuk memperoleh nilai tertinggi saat kelulusan nanti. Ibuku terus menemaniku saat aku belajar tengah malam. Foto gedung sekolah mewah yang dikirim Silvi terus aku pandangi dan aku semakin yakin bisa sekolah disana. Bapakku, dia hanya asik menghisap rokoknya.

Hari kelulusan akhirnya datang. Dan seperti rencanaku, aku mendapatkan nilai tertinggi se-kabupaten. Tutur guruku. Dia bangga dengan usahaku dan aku belum puas hanya sampai disitu. Aku baru puas ketika bapak memberikan restunya untuk aku sekolah di Jakarta dengan Silvi.

Orang tua murid kelas 3 datang semua dengan penampilan sempurna. Kecuali bapak. Dia masih sibuk mengurusi panen jagungnya. Hanya ibuku mengenakan gaun kuning yang sudah lusuh dan warnanya luntur. Dia berjalan dengan penuh semangat dan tas kecil yang selalu menemani beliau setiap kali pergi disuatu acara.

Dia berjalan anggun. Aku menunggunya di depan gerbang sekolah. Dia tersenyum, aku terdiam. Dan dia sampai di sekolah dengan penuh peluh keringat.

Ibu duduk paling depan. Dan kepala sekolah satu per satu memanggil orang tua murid untuk mengambil gulungan kertas dari diknas. Ibuku yang buta huruf, langsung menyerahkan padaku. Aku dengan senang hati membuka dan melihat hasil kerja kerasku selama ini.

sebelum bersambung 4

Posted in Cerpen, Story, life, Uncategorized
2 comments on “Elang (3/5)
  1. […] bersambung 3sebelum Comments (1) […]

  2. […] sebelum bersambung 5 Comments (1) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: