Elang (4/5)


SEMPURNA. Aku peroleh rata-rata 9. dan hampir tak ada angak 7 untuk pelajaran lainnya. Aku menangis dan sekali lagi ibuku hanya bisa merangkulku dengan erat penuh kebahagiaan dan kecemasan.

Malam itu juga aku mulai merayu bapak. Dan seperti biasa aku ditolaknya mentah-mentah. Dan yang lebih menyakitkan aku tidak diperbolehkan meneruskan jenjang pendidikan lebih lanjut.

” kata pak Kades, Pendidikan wajib 9 taon. SD lan SMP.”

” terus ngopo kowe neruske sekolah meneh. Wis cukup bagi bapak kowe lulus SMP.”

Aku terkejut pernyataan bapak. Aku tak bisa berkata lagi. Mulutku terpatri. Melekat kuat sampai aku tak sanggup membukanya.

” bapak, Elang dapat nile paling apik sekabupaten.” bela ibu.

Sia-sia. Bapak tidak terlalu perduli dengan hasil kerja kerasku belajar. Dia sama sekali tidak melihatnya. Aku tertunduk. Aku malu pada Silvi. Aku malu pada guruku. Aku malu pada ibuku. Aku malu dengan semua.

” bapak sudah jodohin kamu dengan anak pak Kades. Si Budi.”

Aku semakin tercengang dengan keputusan bapak begitu menggemparkan.

” bapak denger-denger dari tetangga, kowe karo Budi pacaran. Jadi sebelum kejadian opo-opo bapak mutuske nikahke kamu karo Budi.”

Aku tidak bisa mencerna perkataan bapak. Semua begitu cepat, semua begitu bias.

Bapak sudah buat keputusan dan sebagai anak perempuan aku hanya bisa manut dengan keputusan bapak.

Pagi itu juga aku mencari Budi di Balai Desa. Aku mengajakknya ngobrol di lapangan sepak bola. Aku terdiam. Budi salah tingkah.

“ maaf mbak Elang. Budi enggak tau kalo bisa sampai seperti ini.”

“ Biar Budi yang ngomong dengan bapak untuk membatalkan lamarannya.”

“ Budi janji mbak.”

Aku hanya diam. Perkataan Budi sambil lalu aku dengarkan. Diotakku hanya ada sekolah SMA dengan gedung megah dan aku bisa belajar didalamnya. Aku terdiam cukup lama. Budi hanya bisa melihat diriku dengan tatapan penuh khaawtir.

” gak perlu. Bapak kalo udah bilang A tetep A. Dia keras kepala.” lirihku pasrah.

” kau tau Budi. Jika masih saudara dekat dinikahkan kemungkinan besar anankknya bisa cacat.” sambungku. Itu cukup bisa membuat Budi untuk mengerti mengapa aku menolaknya.

” tapi itu tak berlaku untuk bapak.”

Kami terdiam cukup lama. Aku hanya butuh waktu untuk menyesuaikan kehidupanku yang baru.

” mbak Elang. Kemarin Mbak Silvi kirim email. Besok dia mau mengunjungi neneknya yang tinggal disebelah desa.”

Aku kaget tapi aku tak bisa berkata apa-apa lagi. ” dan dia kirim surat yang Budi gak ngerti.” lanjut Budi sambil merogoh kantong celanan mencarik secarik kertas.

Aku langsung merebutnya dan membacanya dengan perlahan-lahan.

sebelum bersambung 5

Posted in Cerpen, Story, life, Uncategorized
2 comments on “Elang (4/5)
  1. […] bersambung 4 Comments […]

  2. […] sebelum Leave a Comment […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: